Para Petani Sejawa Akan Geruduk istana Kepresidenan

Para Petani Sejawa Akan Geruduk istana Kepresidenan – Petani serta entrepreneur tebu se-Jawa meneror akan berunjuk rasa di Istana Presiden apabila pemerintah tidak selekasnya mencabut kebijakan pengenaan pajak bertambahnya nilai (PPN) sebesar 10 % untuk gula tebu.

” Kalau tdk ada respon dari pemerintah, kami akan membawa petani jumlah 5. 000 ke Istana Presiden. Kami memohon gula tani selekasnya dibebaskan dari PPN 10 %, ” kata Ketua Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen selesai memimpin rapat entrepreneur, pedagang serta petani gula tebu di Aula PG Rejdo Agung Madiun, Jumat (7/7/2017) malam.

Menurut Soemitro, langkah itu ditempuh karna pihaknya telah berjumpa menteri berkaitan beberapa saat lalu. Waktu itu, dari kementerian menyebutkan kalau kebijakan pengenaan PPN itu tak kan dirubah terkecuali ada ketentuan dari Presiden.

Sebelum menyelenggarakan unjuk rasa, kata Soemitro, APTRI memberi batasan saat sampai akhir bln. Juli pada pemerintah untuk mencabut kebijakan itu.

Ia mengklaim kalau sekarang ini banyak tokoh nasional, ketua partai politik, serta anggota DPR RI tengah memperjuangkan supaya pemerintah mencabut aturan itu.

Menurut Soemitro, kebijakan pemerintah harusnya membawa perubahan, umpamanya berkaitan besarnya rendemen serta penetapan harga gula lokal yang lebih tinggi di banding gula import.

” Daging import di jual dengan harga Rp 80. 000. Namun daging lokal bisa di jual Rp 120. 000. Tidakkah ini karna peternak lokal belum juga seefesien mereka, oleh sebab itu dapat di jual mahal daging lokal? ” kata Soemitro.

Keadaan sama semestinya digunakan pada gula hingga dapat membuat swasembada gula.

Soemitro memohon pemerintah selekasnya menentukan gula jadi bahan pokok yang berbentuk strategis hingga tidak dikenai PPN hingga dimana juga.

Disamping itu, Sekjen APTRI M Nur Khabsin menyebutkan, satu juta-an petani tebu akan rasakan efeknya apabila kebijakan PPN 10 % gula tebu tidak selekasnya dicabut. Terlebih sekarang ini produksi petani turun sampai 30 %.