Rommy Meminta PSI Untuk Tidak Menjadi Beban Buat Jokowi

Rommy Meminta PSI Untuk Tidak Menjadi Beban Buat Jokowi – Riuh rendah perbincangan larangan poligami yaang dikatakan Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie pada kadernya selalu bersambung. Perbincangan bahkan juga semakin meluas ke ranah politik serta menyeret Ketum PPP Romahurmuziy yang notabenenya ialah sejawat politik PSI di konsolidasi Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Larangan poligami ini pertama-tama dikatakan Grace dalam acara Festival 11 di Jawa timur Expo, Surabaya, Selasa (11/12). Grace menjelaskan akan tidak merestui kader, pengurus, serta anggota legislatif dari PSI mengaplikasikan poligami.

“Karenanya, PSI tidak pernah memberi dukungan poligami. Tidak akan ada kader, pengurus, serta anggota legislatif dari partai ini yang bisa mengaplikasikan poligami,” kata Grace.

Grace lalu membuka salah satunya hasil riset berkaitan poligami. Menurutnya, poligami jadi salah satunya sumber ketidakadilan buat wanita.

“Penelitian LBH APIK mengenai poligami menyimpulkan jika biasanya praktek poligami mengakibatkan ketidakadilan wanita yang disakiti serta anak yang ditelantarkan,” katanya.

Wanita bekas jurnalis itu tidak main-main dengan larangan poligami itu. Bila partainya melenggang ke parlemen, Grace menjelaskan PSI bisa menjadi yang pertama berusaha untuk membuat revisi UU Poligami.

Akan tetapi penolakan pada larangan itu rupanya muncul semenjak awal. Ialah Nadir Amir menjadi salah satunya kader PSI di Bone, Sulsel, yang terasa terganggu serta meneror akan mundur dari partai saat Grace mengemukakan larangan poligami untuk kader PSI.

Penolakan Nadir pada larangan yang dikatakan oleh Grace itu didasarkan pada fakta pribadi. Nadir mengakui ayahnya memiliki empat orang istri.

“Bagaimana tidak, keluarga saya ada yang poligami. Bapak saya miliki empat istri, om saya serta sepupu saya ada juga yang poligami. Lingkungan keluarga saya mulai risi dengan ketentuan itu,” kata Ketua DPC PSI Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, itu waktu terlibat perbincangan dengan detikcom, Jumat (14/12).

Perbincangan larangan poligami itu nyatanya tidak cuma menyertakan internal PSI. Diskursus poligami ini makin meluas ke ranah politik internal konsolidasi Jokowi-Ma’ruf.

Salah satunya masukan muncul dari Ketum PPP Romahurmuziy yang memandang larangan poligami PSI itu bisa merugikan calon presiden yang diusungnya, Jokowi. Pria yang karib dipanggil Rommy itu minta PSI tidak untuk jadi beban buat Jokowi.

“Saya menyarankan rekan-rekan di PSI tidak untuk malah jadi dianya menjadi beban berkenaan dengan positioning strategy yang mereka kerjakan melabelkan Jokowi menjadi anti-Islam,” kata Rommy di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (15/12/2018).

Rommy menuturkan sampai kini Jokowi tetap lekat dengan tuduhan anti-Islam. Karenanya, ia minta untuk tiap-tiap rekan-rekan partai politik konsolidasi untuk semakin dapat mengatur pengakuannya.

“Karena itu, saya mengemukakan ini supaya jadi yang terakhirnya oleh kader-kader PSI,” katanya.

“Ini tidak ada masalah Jokowi serta Prabowo. Ini masalah kepercayaan umat Islam. Saya memperingatkan supaya rekan-rekan pimpinan partai politik dapat mengatur kader-kadernya dalam keluarkan pernyataan-pernyataan supaya tidak menyentuh agama atau suku manakah juga,” tambah Rommy.

Pengakuan Rommy itu lalu disikapi PSI dengan tegas. Jubir PSI, Guntur Romli, menyatakan larangan poligami itu adalah sikap PSI, bukan sikap konsolidasi Jokowi-Ma’ruf.

“Ketentuan larangan poligami itu internal untuk mengatur PSI, PPP tidak bisa ngomong dong. PSI miliki hak untuk memberi ketentuan pada pengurus serta kader PSI. PPP urus saja PPP, janganlah urus PSI,” kata Guntur pada wartawan di restoran Gado-Gado Boplo, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (15/12).

Guntur meyakini kebijaksanaan PSI itu akan tidak punya pengaruh pada kepopuleran sang petahana. Panggilan Jokowi anti-Islam ikut disebutnya tidak laku sebab calon wakil presiden Jokowi ialah Ma’ruf Amin.