Visi Misi Prabowo Subianto

Visi Misi Prabowo Subianto – ” Kita mesti berdiri diatas kaki kita sendiri, kita mesti swasembada pangan, swasembada daya, swasembada air, supaya kita dapat survive jadi satu bangsa. “

Kalimat itu dilepaskan capres Prabowo Subianto kala memberikan visi misinya dalam debat capres putaran ke-2, Minggu (17 Februari 2019) malam.

” PBB saat ini mengemukakan jika ini dia tiga soal penting tolak ukur kesuksesan satu negara. Satu negara disebutkan dapat sukses bila dapat penuhi pangan untuk rakyatnya, daya untuk rakyatnya, serta air tiada import, ” Prabowo meneruskan uraiannya.

Sesungguhnya, dalam dokumen Maksud Pembangunan Terus terusan atau Sustainable Development Goals (SDGs) , PBB tdk menyebutkan jika kesuksesan negara ditetapkan import atau tidaknya komoditas pangan. Sesuai sama point nomer dua, yang PBB amanatkan yaitu penuntasan kelaparan, ketahanan pangan serta penambahan gizi, dan suport pada pertanian terus terusan.

Berlainan dengan Prabowo, Jokowi lebih waspada dengan tidak menyebutkan kata ” swasembada ” . “Kita pingin adanya pangan, stock pangan, kestabilan harga mesti senantiasa kita lindungi, ” demikian kata Jokowi.

Lima tahun yang kemarin, beda ceritanya. Jokowi, melalui calon wakil presiden Jusuf Kalla, juga sempat menyebutkan swasembada, dengan spesifik swasembada daya serta daging, dalam debat putaran ke lima yang diadakan pada 5 Juli 2014 lalu. Kalla bicara ihwal penambahan produktivitas, penyediaan bibit yang baik, pupuk yang pas, serta perbaikan pengairan.

Dalam debat lima tahun yang kemarin itu, Jokowi relatif bicara masalah import pangan dengan sesuai yang ada. Masalah import sapi, contohnya, dia cenderung mengimpor karkas dibandingkan dengan daging potongan—direspons Prabowo yang mengemukakan tidak pingin import sapi berbentuk apa-pun. Biarpun lebih sesuai yang ada, obsesi swasembada berkelanjutan dikatakan Jokowi selesai dia menjabat presiden.

Seperti dikabarkan Tempo pada 26 Desember 2014, Jokowi jengkel sebab Indonesia mesti mengimpor beras. Jokowi lantas mengatakan malu kala Presiden Vietnam kala itu, Truong Tang Sang, ajukan pertanyaan mengenai gagasan Indonesia beli beras dari negara itu.

Bahkan juga, selesai menyerahkan penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2014 itu, Jokowi memerintah Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk wujudkan ambisinya. Pada Desember 2014, seperti dikabarkan Kompas. com, Jokowi bakal merubah menteri pertanian kalau tidak dapat wujudkan swasembada pangan saat tiga tahun.

Tetapi, tiga tahun selesai Jokowi meluncurkan ancamannya itu, Indonesia tetap mengimpor beras sebagai bahan pangan inti sebagian besar masyarakat Indonesia. Menurut data BPS, ada sembilan negara sebagai sumber penting import beras di Indonesia, yaitu Vietnam, Thailand, Tiongkok, India, Pakistan, Amerika Serikat, Taiwan, Singapura, serta Myanmar.

Kalau pada 2014 import beras Indonesia sejumlah 844. 163, 7 ton, pada 2015, angka import alami penambahan berubah menjadi 861. 601 ton, serta kian tinggi pada 2016 sebesar 1. 283. 178, 5 ton. Pada 2017, Indonesia tetap mengimpor beras sejumlah 305. 274, 6 ton.

pada awal 2018 pemerintah hendak memutuskan untuk mengimpor 500 ribu ton beras yang datang dari Vietnam serta Thailand. Pada 2016 bahkan juga Indonesia sudah sempat mengimpor 1, 2 juta ton beras. Import beras sekian lama ini berlangsung oleh swasta untuk keperluan teristimewa seperti restoran sampai oleh Perum Bulog untuk stabilisasi harga.

Faktor import beras 2018, seperti beberapa tahun awal kalinya menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, yaitu untuk mengontrol kestabilan harga sesuai sama ketentuan Harga Eceran Paling tinggi (HET) ditengah adanya yang rendah. Data Kementan memberikan keperluan beras per tahun kurang lebih 33, 4 juta ton. Import beras yang dikerjakan Indonesia memang tetap relatif minim dari keseluruhan keperluan.
Yang Disebut dengan Swasembada
Menunjuk wawasan Food and Agriculture Organization (FAO) pada 1984, swasembada terwujud kalau satu negara dapat penuhi 90 prosen keperluan komoditas.

Pada debat tempo hari, Jokowi membuat jagung jadi capaiannya. “Kita ingat di 2014 kita tetap import 3, 5 juta ton jagung. Tahun 2018 kita cuma import 180 ribu ton jagung. Berarti ada produksi 3, 3 juta ton yang sudah dikerjakan petani satu lompatan besar di sektor lingkungan hidup, ” papar Jokowi.

Jokowi bisa saja menyenangkan hati produksi jagung di tahun 2018, namun sesungguhnya rezim ini lepas dari obyek. Pada 2017 lantas, Menteri Pertanian sempat sesumbar bakal zero import untuk 2018. Sebenarnya, satu tahun lalu ada 70 ribu ton jagung import masuk ke Indonesia hingga Desember 2018.